Fenomena perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menjadi masalah krusial yang memerlukan solusi intervensi yang inovatif dan mendalam. Salah satu strategi yang kini banyak diterapkan adalah mengalihkan energi negatif yang berpotensi menjadi konflik menjadi energi positif melalui Pembelajaran Berbasis Kolaborasi. Program ini diberi nama “Stop Bully, Start Project”, sebuah inisiatif yang dirancang untuk secara struktural meningkatkan Empati Siswa sekaligus menanamkan keterampilan kerja tim yang esensial. Dengan memaksa siswa bekerja bersama dalam proyek bersama, program Stop Bully Start Project ini terbukti efektif mengurangi insiden perundungan dan meningkatkan pemahaman interpersonal.
Konsep Stop Bully Start Project ini mulai diujicobakan secara resmi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sejak awal semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Fokus utama diletakkan pada proyek-proyek lintas mata pelajaran yang memerlukan partisipasi penuh dari seluruh anggota kelompok, termasuk siswa yang sebelumnya memiliki riwayat konflik atau isolasi sosial. Contohnya, di SMP Negeri 5 Cisarua, seluruh siswa kelas 8 diwajibkan menyelesaikan proyek pembuatan sistem penyaringan air sederhana selama periode tiga bulan. Proyek ini membutuhkan gabungan keterampilan dari mata pelajaran IPA, Seni, dan Bahasa Indonesia.
Data dari laporan Satuan Tugas Perlindungan Anak dan Perempuan (Satgas PPA) Polres Bogor yang dicatat pada hari Senin, 10 November 2025, menunjukkan penurunan signifikan dalam laporan kasus perundungan di 15 sekolah percontohan. Sebelum program Stop Bully Start Project dimulai, rata-rata terjadi 8 kasus perundungan ringan hingga sedang per bulan. Setelah program berjalan selama satu semester, angka tersebut turun menjadi hanya 2 kasus per bulan. Penurunan ini didukung oleh temuan psikologis bahwa ketika siswa dipaksa untuk bergantung pada keterampilan masing-masing anggota kelompok demi keberhasilan proyek bersama, kebutuhan untuk saling menghargai dan memahami perspektif orang lain meningkat secara alami, yang merupakan inti dari peningkatan Empati Siswa.
Program Pembelajaran Berbasis Kolaborasi ini juga menekankan pada evaluasi proses dan bukan hanya hasil akhir. Guru difokuskan untuk menilai seberapa baik siswa bekerja sama, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan memberikan dukungan kepada anggota yang kesulitan. Menurut keterangan dari psikolog pendidikan anak dan remaja, Ibu Dr. Tika Melati, S.Psi., pada seminar yang diadakan tanggal 5 Desember 2025, peer dependency yang diciptakan oleh proyek kolaboratif adalah kunci. Ketika anak-anak menyadari bahwa kesuksesan pribadi terikat pada kesuksesan kolektif, mereka secara otomatis mengesampingkan perbedaan dan permusuhan. Dengan demikian, inisiatif “Stop Bully, Start Project” ini membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya harus mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun karakter dan Empati Siswa melalui pengalaman interaktif yang positif.