SMA Kolese Kanisius Jakarta memiliki cara unik dan mendalam dalam mendidik siswanya, salah satunya melalui program pengabdian masyarakat Kanisius atau yang sering dikenal sebagai kegiatan ekskursi. Dalam program ini, siswa yang biasanya terbiasa dengan fasilitas kota besar dikirim untuk tinggal dan hidup bersama warga di pedesaan selama jangka waktu tertentu. Tujuan utamanya bukan sekadar membantu pekerjaan fisik warga, melainkan untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat yang berbeda, guna menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial yang nyata dalam diri setiap calon pemimpin.
Selama mengikuti pengabdian masyarakat Kanisius, para siswa diwajibkan untuk melepas segala kemewahan gawai dan kenyamanan perkotaan. Mereka ikut turun ke sawah, membantu memasak di dapur sederhana, hingga mengajar anak-anak di sekolah desa setempat. Interaksi langsung dengan warga desa memberikan perspektif baru tentang arti kerja keras dan kesederhanaan. Pengalaman “hidup bersama” (living in) ini memaksa siswa untuk keluar dari zona nyaman mereka dan belajar mendengarkan serta memahami persoalan hidup yang dihadapi oleh masyarakat kecil di pelosok nusantara secara lebih objektif dan manusiawi.
Refleksi adalah bagian integral dari pengabdian masyarakat Kanisius. Setiap malam, para siswa berkumpul untuk berbagi cerita dan merenungkan apa yang mereka pelajari sepanjang hari. Proses ini sangat krusial untuk mengubah pengalaman fisik menjadi pelajaran hidup yang membekas di hati. Mereka mulai menyadari bahwa keberuntungan yang mereka miliki sebagai siswa sekolah elit di Jakarta membawa tanggung jawab sosial yang besar untuk membantu sesama. Empati yang tumbuh dari keringat dan kebersamaan ini jauh lebih kuat dibandingkan sekadar mempelajari teori sosiologi di dalam ruang kelas yang berpendingin udara.
Bagi orang tua dan pendidik, program pengabdian masyarakat Kanisius dianggap sebagai momen pendewasaan yang sangat efektif bagi remaja putra. Mereka pulang dengan sikap yang lebih rendah hati, lebih menghargai makanan, dan lebih peduli pada isu-isu kemiskinan serta ketimpangan sosial. Kanisius percaya bahwa seorang pemimpin yang cerdas harus memiliki hati yang hangat dan kaki yang membumi. Program ini merupakan perwujudan dari semboyan Men and Women for Others, yang menekankan bahwa keberhasilan pribadi tidak ada artinya jika tidak memberikan dampak positif bagi orang lain yang kurang beruntung.