Prinsip hidup yang mendalam dan transformatif terus diwariskan kepada setiap siswa laki-laki untuk menjadi Men for Others, sebuah konsep filosofis tentang manusia yang hidup demi melayani sesama dengan ketulusan hati. Di Kolese Kanisius, nilai ini bukan sekadar slogan estetika yang terpampang di dinding sekolah, melainkan sebuah pedoman hidup yang diimplementasikan secara sangat disiplin dalam seluruh aspek kurikulum pendidikan karakter mereka. Salah satu wujud nyatanya adalah melalui program Pengabdian Sosial yang wajib diikuti oleh setiap siswa, di mana mereka diharuskan untuk tinggal sementara dan berinteraksi secara intensif di daerah pedesaan, perkampungan nelayan, atau panti sosial guna merasakan secara langsung realitas kehidupan masyarakat yang kurang beruntung.
Semangat menjadi Men for Others ini memiliki tujuan utama untuk menghancurkan tembok egoisme serta menumbuhkan kerendahan hati yang mendalam di kalangan siswa Kolese Kanisius. Selama menjalani masa Pengabdian Sosial, para pemuda ini belajar untuk melepaskan segala kenyamanan hidup perkotaan dan mulai melayani tanpa pamrih, mulai dari membantu pekerjaan berat di ladang petani, mengajar anak-anak di pelosok, hingga merawat lansia yang terabaikan. Pengalaman langsung yang menyentuh sisi kemanusiaan ini membentuk perspektif baru dalam pikiran siswa bahwa keberhasilan sejati dalam hidup manusia tidaklah diukur dari tumpukan kekayaan materi atau status sosial, melainkan dari seberapa besar kontribusi, perhatian, dan manfaat yang bisa mereka berikan kepada orang lain yang membutuhkan.
Di lingkungan internal Kolese Kanisius, program pembentukan karakter ini didukung penuh oleh tradisi refleksi harian yang sangat mendalam dan sistematis setelah kegiatan Pengabdian Sosial dilaksanakan secara kolektif. Proses refleksi ini memastikan bahwa setiap aksi sosial yang telah dilakukan tidak hanya menjadi seremoni formalitas atau sekadar tugas sekolah, tetapi benar-benar meresap dan mengubah cara pandang serta hati nurani siswa dalam melihat masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan marginalisasi sosial. Dengan pembentukan karakter yang kuat dan berorientasi pada pelayanan publik, sekolah ini secara konsisten terus melahirkan calon-calon pemimpin bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan komitmen kemanusiaan yang sangat tinggi untuk membela kaum yang lemah dan terpinggirkan.