Pendidikan karakter di lingkungan sekolah sering kali ditemukan dalam disiplin bermain musik berkelompok, dan bagi SMA Kanisius, Gamelan adalah media utama untuk mengasah kepekaan rasa para siswanya. Melalui latihan rutin, sekolah ini berkomitmen untuk menjaga eksistensi musik tradisi di tengah hiruk-pikuk gaya hidup kosmopolitan Jakarta. Bermain gamelan bukan sekadar memukul bilah logam, melainkan sebuah latihan spiritual tentang bagaimana menyelaraskan diri dengan orang lain. Di bawah bimbingan guru seni yang mumpuni, para siswa diajak untuk memahami bahwa dalam gamelan, tidak ada satu instrumen pun yang berdiri sendiri sebagai bintang utama; semuanya bekerja dalam satu kesatuan suara.
Fokus utama dalam konser tahunan ini adalah penggunaan Laras Pelog, salah satu sistem nada dalam karawitan Jawa yang memberikan kesan gagah, khidmat, dan tenang. Para siswa harus belajar membedakan interval nada yang unik pada pelog, yang sangat berbeda dengan tangga nada diatonis Barat yang biasa mereka dengar di radio. Penguasaan pada Instrumen Jawa seperti saron, bonang, hingga gong menuntut koordinasi motorik yang baik serta pendengaran yang tajam. Konser ini menjadi ajang pembuktian bahwa siswa dari latar belakang perkotaan pun mampu membawakan gending-gending klasik dengan teknik yang mumpuni dan penghayatan yang mendalam.
Keberhasilan pementasan Gamelan di Kanisius juga dipengaruhi oleh suasana disiplin yang menjadi ciri khas sekolah ini. Setiap siswa yang tergabung dalam tim karawitan harus mengikuti jadwal latihan yang ketat guna memastikan sinkronisasi irama yang sempurna. Penggunaan Instrumen Jawa yang otentik dan terbuat dari perunggu berkualitas tinggi memberikan kualitas suara yang megah saat konser berlangsung. Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai kesantunan dan tata krama Jawa yang terkandung dalam filosofi musiknya. Siswa belajar untuk saling menghormati peran masing-masing, baik sebagai pemimpin irama (kendang) maupun sebagai penjaga detak waktu (gong).
Selain membawakan lagu-lagu tradisional, konser ini juga sering menampilkan kolaborasi antara Gamelan dengan instrumen modern seperti selo atau biola. Inovasi ini dilakukan untuk memberikan perspektif baru bagi penonton muda agar tidak merasa asing dengan budayanya sendiri. Meskipun ada sentuhan modern, Laras Pelog tetap dipertahankan sebagai fondasi utama untuk menjaga karakteristik suaranya yang khas. Upaya pelestarian ini sangat diapresiasi oleh orang tua siswa dan alumni, karena sekolah dianggap berhasil menjaga warisan intelektual bangsa di tengah arus globalisasi yang sangat kencang. Gamelan menjadi identitas pembeda yang membuat siswa Kanisius memiliki kedalaman budaya yang luar biasa.