Di tengah gelombang modernisasi pendidikan yang sangat menekankan pada kesetaraan gender dan inklusivitas, keberadaan sebuah sekolah di pusat Jakarta yang tetap mempertahankan tradisi satu gender menjadi fenomena yang sangat unik. Kebijakan yang menetapkan bahwa sekolah ini hanya cowok telah berlangsung selama puluhan tahun dan tetap dipertahankan meskipun banyak institusi lain mulai beralih menjadi sekolah campuran. Keputusan ini didasari pada filosofi pendidikan Jesuit yang meyakini bahwa lingkungan belajar homogen laki-laki memiliki efektivitas tersendiri dalam pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Bagi para pendidik di sana, model pendidikan yang hanya cowok memungkinkan para siswa untuk mengeksplorasi potensi diri mereka tanpa adanya tekanan sosial atau distraksi yang sering muncul dalam lingkungan heterogen. Dalam suasana ini, para remaja pria diajarkan untuk saling mendukung, membangun persaudaraan yang kuat, serta berani mengekspresikan emosi dan kreativitas mereka secara lebih terbuka. Banyak alumni yang merasa bahwa sistem ini sangat membantu dalam membentuk kedisiplinan dan semangat pengabdian kepada sesama atau men for others.
Namun, di era sekarang, kebijakan yang hanya cowok ini sering kali menuai kritik dari para aktivis pendidikan yang menganggap sekolah seharusnya menjadi miniatur masyarakat yang beragam. Kritikus berpendapat bahwa dengan mengisolasi siswa dalam lingkungan satu gender, mereka mungkin akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berkolaborasi dengan lawan jenis di dunia kerja profesional nantinya. Meskipun demikian, pihak sekolah terus membuktikan bahwa melalui berbagai kegiatan kolaborasi antar sekolah, para siswanya tetap mampu membangun kemampuan interpersonal yang baik dan menghargai perbedaan.
Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan bahwa ada nilai-nilai klasik yang tetap dianggap relevan oleh para orang tua yang memilih sekolah ini bagi anak laki-laki mereka. Fakta bahwa sekolah ini hanya cowok justru menjadi nilai jual tersendiri atau unique selling point yang membedakannya dengan sekolah menengah lainnya di Indonesia. Fokus pada pengembangan kepemimpinan yang berintegritas dan ketangguhan mental menjadi prioritas utama yang dijalankan melalui kegiatan seperti retret, latihan baris-berbaris, serta debat yang sangat intens.